Tampilkan postingan dengan label ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ramadhan. Tampilkan semua postingan

Umroh Liburan Akhir Tahun 2017






Bismillah. 🕋🕋🕋🕋
Umroh Liburan Akhir Tahun 2017
Dapat 2 Jumat

Pesawat ✈ Saudiairlines  starting SINGAPORE

Jadwal 20  - 30  Des 2017

❗Harga All In 20jt

🏨Hotel Madinah Sourfah / Setaraf (150m dari Nabawi)

🏨Hotel Mekkah Nawat Syam 1 / Setaraf (350m dr Masjidil Haram)

💟Harga Sudah termasuk:
- tiket PP starting CGK to CGK (daerah lain tergantung tiket ke  SIN nya)
- Penginapan sekamar ber 4 mekkah madinah
- visa Umroh
- city tour Mekkah, Jeddah, Madinah
- Muthawif, Muthowifah
- catering 3× sehari menu Indonesia
- akomodasi & transportasi
- Buku doa
- ZamZam 5 liter
- Seragam untuk identitas group

Blm termasuk:
- pembuatan passport,
- suntik maningitis ,surat lain bila perlu


📝Ketentuan Pendaftaran:
Cukup DP tiket 9jt

Sisa Pelunasan bisa dicicil dan dibayar paling telat 15 November 2017

📞hub Thoyib-085693772077
Selasa, 12 Juli 2016 - , , , , , , , , , 1 komentar

urunan alias patungan




SOLUSI PINJAMAN TANPA RIBA BERBASIS KOMUNITAS DAN SILATURAHMI...
Ini bukan arisan yaa.. catet, bukan arisan. Kalau denger acara kumpul bareng bakal terbersit "waaa pasti ada arisannya nih!" Kapan dapetnya bergilir nunggu bertahun-tahun.. sampai ngampet hehe
Silaturahmi membuka pintu rejeki..
Bener banget tuh, orang yang setiap hari bertemu dengan banyak orang, kemana-mana punya teman, pas butuh gampang banget ada yang membantu. Beda dengan yang setiap hari hanya nongkrong di kamar aja, gak gaul.. Sekali punya masalah kelimpungan gak kenal siapa-siapa..
Berikut langkah-langkahnya,
1. Kumpulkan 10 orang yang akan menjadi anggota Kelompok Permodalan (PokDal). Jangan asal comot, pilih anggota yang sevisi, yang punya komitmen dan track record yang bagus. Kalau semua statusnya punya usaha, maka harus terbukti usahanya eksis dan berjalan. Lebih bagus kalau anggota semuanya tinggal di satu kota agar intens pertemuannya.
2. Bikin group WA atau Telegram yang jadi tempat kumpul online. Jadikan tempat untuk mastermind bisnis juga. Kalau ada acara kumpul bersama di rumah salah satu anggota dia yang menjamu, kalau kumpul di satu tempat makan, bayar sendiri-sendiri. Biasakan mandiri dan gak cari gratisan!
3. Pilih seorang ketua, bendahara dan sekretaris. Bergilir misal tiap tahun ganti kepengurusan.
4. Bikin satu rekening bersama, yang bisa diakses oleh semua anggota. Dalam 24 jam dana terpantau bersama.
5. Bikin kesepakatan, dari 10 orang ini tiap bulan ada simpanan wajib. Nilainya di sepakati. Bisa 200 ribu, 500 ribu, atau 1 juta. Nilainya harus sama, semakin besar semakin bagus, asal tidak memberatkan anggota lainnya.
6. Misal contoh 1 orang simpanannya disepakati 1 juta/bulan. Maka dalam 1 bulan terkumpul 10 juta, 2 bulan ada 20 juta, 3 bulan 30 juta, 4 bulan 40 juta, 5 bulan 50 juta dan seterusnya..
7. Bikin aturan main, hanya anggota PokDal yang boleh meminjam dana. Kebutuhan dana juga ditentukan: untuk modal usaha jangka pendek dan untuk pinjaman darurat. Tidak boleh dana dipinjamkan untuk kebutuhan konsumtif, misalnya beli motor baru atau HP baru..
8. Pinjaman Modal Jangka Pendek (PinMoJaPe) diberikan kepada anggota untuk modal bisnis dalam waktu maksimal 2 bulan. Akadnya bisa pinjam tanpa bagi hasil (pinjam 10 juta dalam sebulan kembalikan 10 juta juga), atau dengan meminjam modal akad syirkah mudharobah (bagi hasil) 30% dari total keuntungan. Jadi misal ada anggota menggunakan dana 10 juta untuk mengerjakan sebuah proyek, dalam waktu dua bulan untung 5 juta.. Maka yang 1,5 juta diberikan bagi hasilnya ke Pokdal, modal yang 10 juta juga dikembalikan. Asetnya nambah kan jadinya.
Kalau rugi?
Jika rugi karena bukan kelalaian pengguna maka dana dianggap total hilang dan kerugian ditanggung bersama semua anggota.
Jika rugi karena kelalaian pengguna, bisa disepakati modal dikembalikan dalam bertahap, tentu tanpa bunga, tanpa denda, tanpa provisi, tanpa pinalti.
Ini harus disepakati bersama, peminjam pun wajib berkomitmen agar usahanya bener-bener dikelola dengan baik agar tidak merugi. Proposalnya harus jelas dengan perhitungan yang matang untuk didiskusikan di group PokDal itu.
Positifnya adalah anggota tidak "nggampangke" (aaah dapat modal nih, kalo rugi kan modal dianggap hilang!) Naaah mental kayak gini yang bakal merusak PokDal. Ada sisi positif untuk bertanggungjawab penuh.
9. Pinjaman Darurat (PinDar) bisa diberikan untuk anggota jika butuh dana kesehatan, misal keluarga ada yang sakit butuh dana 3 juta, maka dana dipinjamkan dan diberi kesempatan 1 bulan untuk mengembalikan. Bisa juga uang hasil usaha dari mudharobah tadi dikumpulkan, jika ada anggota yang darurat bisa diberikan sebagian sebagai santunan.
10. Jika seluruh anggota berkomitmen dan tertib, dalam setahun 120 juta uang terkumpul, belum dari hasil mudharobah tadi. Makin lama makin banyak dana yang tersimpan.
11. Jangan menambah anggota di tengah jalan, bukan bank atau koperasi yang berlomba menambah nasabah dan anggota. Pegang komitmen 10 orang ini agar tidak ribet dalam pengelolaannya.
12. Jika ada anggota yang mulai tidak komit, pertemuan gak pernah datang, selalu pasif, atas kesepakatan bersama maka anggota tersebut bisa ditawarkan untuk mengundurkan diri. Kembalikan semua uang yang sudah dia simpan. Total 100 % tanpa bunga, denda atau potongan.
13. Jika mau mencari anggota pengganti agar genap lagi 10 orang, maka anggota baru tersebut harus memiliki visi yang sama, jangan asal comot, dan bersedia untuk menyimpan pinjaman yang kalau ditotal sama dengan anggota lama.
14. Jika ini bisa tertib, dalam 5 tahun PokDal ini akan punya dana senilai 600 juta, dalam 10 tahun ada 1,2 Milyar dan terus diputar kepada 10 anggotanya. Terus dan terus membesar!
15. Bayangkan jika disatu kota ada ratusan bahkan ribuan PokDal, saling support, saling bantu, saling mendoakan.. Ini keren! Gak ada yang terjerumus kepada pinjaman riba atau bahkan ke rentenir jalanan yang bunganya nyekek leher bikin sesek di dada.
16. Bisa disepakati juga, tiap tahun 10% dana yang terkumpul disedekahkan untuk modal kerja duafa di luar anggota, bisa juga untuk anak-anak panti asuhan dibuatkan usaha. Biar Pokdal ini juga punya kemanfaatan bagi masyarakat sekitar.
17. Berani mencoba? Mulai sekarang berburu anggotanya. Jangan terburu-buru, lihat latar belakangnya, kalau perlu datangi tempat usahanya, wawancara tentang visi hidupnya. Jelaskan aturan mainnya.
18. Jangan lupa berdoa, bersedekah juga dimuka, minta pada Allah dipertemukan dengan orang-orang yang sevisi agar bisa maju bersama di PokDal ini.
Aturan tambahan dan revisi bisa dibahas bersama di masing-masing PokDal, yang saya tulis hanya acuan saja. Silahkan dikembangkan sendiri dengan kelompoknya. Biar makin lengkap dan memenuhi keinginan semua anggota.
Semoga setahun lagi atau 5 tahun lagi sudah buanyak PokDal-PokDal mandiri yang berdiri di berbagai wilayah. Dengan nama-nama yang bebas dipilih sendiri, eksis bareng tanpa merugikan, tanpa menjatuhkan.
Berjamaah itu membuat kuat..
Pahalanya pun berlipat-lipat..
Saptuari Sugiharto

CARA KAPITALISME MENGUASAI DUNIA

[Tulisan panjaaaaang dari Ustadz Dwi Condro Triyono, Ph.D ini nambah ilmu banget, baca pelan-pelan dan pahami yak, sayang kalo kelewatan]
Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital (modal).
Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot uang” yang dikenal dengan lembaga perbankan. Oleh lembaga ini, sisa-sisa uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan “disedot”.
Lalu siapakah yang akan memanfaatkan uang di bank tersebut? Tentu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman (kredit) dari bank, yaitu: fix return dan agunan. Konsekuensinya, hanya pengusaha besar dan sehat sajalah yang akan mampu memenuhi ketentuan ini. Siapakah mereka itu? Mereka itu tidak lain adalah kaum kapitalis, yang sudah mempunyai perusahaan yang besar, untuk menjadi lebih besar lagi.
Nah, apakah adanya lembaga perbankan ini sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa?
Yaitu dengan pasar modal. Dengan pasar ini, para pengusaha cukup mencetak kertas-kertas saham untuk dijual kepada masyarakat dengan iming-iming akan diberi deviden.
Siapakah yang memanfaatkan keberadaan pasar modal ini? Dengan persyaratan untuk menjadi emiten dan penilaian investor yang sangat ketat, lagi-lagi hanya perusahaan besar dan sehat saja yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini.
Siapa mereka itu? Kaum kapitalis juga, yang sudah mempunyai perusahaan besar, untuk menjadi lebih besar lagi. Adanya tambahan pasar modal ini, apakah sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa lagi?
Cara selanjutnya yaitu dengan “memakan perusahaan kecil”. Bagaimana caranya? Menurut teori Karl Marx, dalam pasar persaingan bebas, ada hukum akumulasi kapital (the law of capital accumulations), yaitu perusahaan besar akan “memakan” perusahaan kecil. Contohnya, jika di suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup dibangun sebuah mal yang besar. Dengan itu toko-toko itu akan tutup dengan sendirinya.
Dengan apa perusahaan besar melakukan ekspansinya? Tentu dengan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Agar perusahaan kapitalis dapat lebih besar lagi, mereka harus mampu memenangkan persaingan pasar. Persaingan pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga yang paling murah. Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti: pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, dsb. Lantas, dengan cara apa perusahaan besar dapat menguasai bahan baku tersebut? Lagi-lagi, tentu saja dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika perusahaan kapitalis ingin lebih besar lagi, maka cara berikutnya adalah dengan “mencaplok” perusahaan milik negara (BUMN).
Kita sudah memahami bahwa perusahaan negara umumnya menguasai sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti: sektor telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertambangan, kehutanan, energi, dsb. Bisnis di sektor yang strategis tentu merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, karena hampir tidak mungkin rugi. Lantas bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan mendorong munculnya Undang-Undang Privatisasi BUMN. Dengan adanya jaminan dari UU ini, perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu per satu BUMN tersebut. Tentu tetap dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika dengan cara ini kaum kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya tentu akan mulai banyak menemukan hambatan. Bagaimana cara mengatasinya?
Caranya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor kekuasaan itu sendiri. Kaum kapitalis harus menjadi penguasa, sekaligus tetap sebagai pengusaha.
Untuk menjadi penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, sebab biaya kampanye itu tidak murah. Bagi kaum kapitalis hal itu tentu tidak menjadi masalah, sebab permodalannya tetap akan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika kaum kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka hegemoni (pengaruh) ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan hegemoni ini. Namun, apakah masalah dari kaum kapitalis sudah selesai sampai di sini?
Tentu saja belum. Ternyata hegemoni ekonomi di tingkat nasional saja belumlah cukup. Mereka justru akan menghadapi problem baru. Apa problemnya?
Problemnya adalah terjadinya ekses produksi. Bagi perusahaan besar, yang produksinya terus membesar, jika produknya hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen. Lantas, kemana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya? Dari sinilah akan muncul cara-cara berikutnya, yaitu dengan melakukan hegemoni di tingkat dunia.
Caranya adalah dengan membuka pasar di negara-negara miskin dan berkembang yang padat penduduknya. Teknisnya adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia (WTO), yang mau tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia (GATT), sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya tanpa halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi).
Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum kapitalis dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di negara-negara “jajahan”-nya.
Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaga andalannya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika kapitalis dunia ingin lebih besar lagi, maka caranya tidak hanya cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya. Mereka harus membuka perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek ekspornya. Yaitu dengan membuka Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan lintas negara, di negara-negara sasarannya.
Dengan membuka langsung perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual produknya dengan harga yang jauh lebih murah. Strategi ini juga sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal yang berpotensi menjadi pesaingnya.
Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Apakah dengan membuka MNC sudah cukup? Jawabnya tentu saja belum. Masih ada peluang untuk menjadi semakin besar lagi. Caranya? Yaitu dengan menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut.
Untuk melancarkan jalannya ini, kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut.
Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya UU Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi). Contoh UU lain, yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan asing untuk mengeruk kekayaan SDA Indonesia adalah: UU Minerba, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dsb.
Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu. Dengan cara apa? Yaitu dengan menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah. Teknisnya adalah dengan menjatuhkan nilai kurs mata uang lokalnya.
Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan sistem kurs mengambang bebas bagi mata uang lokal tersebut. Jika nilai kurs mata uang lokal tidak boleh ditetapkan oleh pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?
Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas). Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya. Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka.
Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya. Cara selanjutnya adalah dengan menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa menjadi semakin murah. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melakukan proses liberalisasi pendidikan di negara tersebut. Teknisnya adalah dengan melakukan intervesi terhadap UU Pendidikan Nasionalnya.
Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan subsidi bagi pendidikannya. Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi. Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan studinya di perguruan tinggi.
Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya. Dengan sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah. Hal ini tentu lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan sarjana. Sarjana biasanya tidak terampil, terlalu banyak bicara dan maunya digaji tinggi.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, cara-cara hegemoni kapitalis dunia di negara lain ternyata banyak mengunakan intervesi UU. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan cara yang lain lagi. Nah, cara inilah yang akan menjamin proses intervensi UU akan dapat berjalan dengan mulus. Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan menempatkan penguasa boneka. Penguasa yang terpilih di negara tersebut harus mau tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum kapitalis dunia. Bagaimana strateginya?
Strateginya adalah dengan memberikan berbagai sarana bagi mereka yang mau menjadi boneka. Sarana tersebut, mulai dari bantuan dana kampanye, publikasi media, manipulasi lembaga survey, hingga intervesi pada sistem perhitungan suara pada Komisi Pemilihan Umumnya.
Nah, apakah ini sudah cukup? Tentu saja belum cukup. Mereka tetap saja akan menghadapi problem yang baru. Apa problemnya?
Jika hegemoni kaum kapitalis terhadap negara-negara tertentu sudah sukses, maka akan memunculkan problem baru. Problemnya adalah “mati”-nya negara jajahan tersebut. Bagi sebuah negara yang telah sukses dihegemoni, maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan melarat. Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum kapitalis itu sendiri. Mengapa?
Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin, maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka. Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua? Di sinilah diperlukan cara berikutnya.
Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM. Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan pengembangan masyarakat (community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry), seperti kerajinan tradisionil maupun industri kreatif lainnya. Masyarakat harus tetap berproduksi (walaupun skala kecil), agar tetap memiliki penghasilan.
Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah masyarakat, maka diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Kaum kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini. Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil, maka kaum kapitalis dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus, yaitu: masyarakat akan tetap memiliki daya beli, akan memutus peran pemerintah dan yang terpenting adalah, negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya.
Sampai di titik ini kapitalisme dunia tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”. Apakah kaum kapitalis sudah tidak memiliki hambatan lagi? Jawabnya ternyata masih ada. Apa itu? Ancaman krisis ekonomi. Sejarah panjang telah membuktikan bahwa ekonomi kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap terjadinya krisis ini.
Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk mengatasinya. Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya. Apa itu?
Ternyata sangat sederhana. Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah untuk memberikan talangan (bailout) atau stimulus ekonomi. Dananya berasal dari mana? Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sebagaimana kita pahami bahwa sumber pendapatan negara adalah berasal dari pajak rakyat. Dengan demikian, jika terjadi krisis ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya. Jawabnya adalah: rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.
Bagaimana hasil akhir dari semua ini? Kaum kapitalis akan tetap jaya dan rakyat selamanya akan tetap menderita. Dimanapun negaranya, nasib rakyat akan tetap sama. Itulah produk dari hegemoni kapitalisme dunia

Penetapan 1 Ramadhan 1437H

Alhamdulillah, Pemerintah RI melalui Kementerian Agama menetapkan awal puasa tahun ini tanggal 6 Juni 2016, semoga semua berjalan lancar

Assalamualaikum wr. wb.
Menyambut Tahun Baru Islam 1438 H, Yayasan Wakaf Minhajul Munawwaroh dan Yayasan At Thoyyibah menyelenggarakan serangkaian acara, diantaranya:


  1. Sepeda Hias dan Santai ( anggaran Rp 4.000.000 )
  2. Lomba Hafalan Quran, Sholat dan Adzan ( anggaran Rp 3.000.000 )
  3. Sunatan Massal ( anggaran Rp 5.000.000 )
  4. Olimpiade Remaja Masjid/Mushola ( anggaran Rp 5.000.000 )
  5. Tahlil Massal ( anggaran Rp 3.000.000 )
  6. Pengajian Akbar ( anggaran Rp 10.000.000 )
Totak Biaya dibutuhkan sekitar Rp  30.000.000 (tiga puluh juta rupiah)

khusus untuk acara nomer 1 sampai 4, insya Alloh di tangani para remaja Masjid dan Mushola
bagi donatur bisa berpartisipasi dengan cara mentransfer donasi ke rekening Mandiri-1390002077760 dan BCA-0960355253 atas nama Syarif Thoyib, konfirmasi ke 085693772077 via SMS/WA
Senin, 30 Mei 2016 - , , , , , , , , , , 0 komentar

Semarak Ramadhan 1437 H

SEMARAK RAMADHAN 1437H
bersama Yayasan At Thoyyibah
Rencana kegiatan:
1. Bersih Mushola
2. Festival Anak Soleh
3. Pesantren Ramadhan
4. Bakti Sosial
5. Peduli Dhu'afa dan Anak Yatim

Rekan-rekan dunia maya bisa berpartisipasi dengan DONASI via Mandiri-1390002077760 dan BCA-0960355253 atas nama Syarif Thoyib
Informasi sms/WA-085693772077

Mereka Cari Jalan, Bukan Cari Uang


Prof Rhenald Kasali
Senin, 18 Mei 2015 | 05:00 WIB
@Rhenald_Kasali
Duduk di depan saya dua perempuan muda. Sarjana Hukum lulusan UI. Wajah dan penampilan kelas menengah, yang kalau dilihat dari luar punya kesempatan untuk “cepat kaya”. Asal saja mereka mau bekerja di firma hukum papan atas yang sedang makmur, seperti impian sebagian kelas menengah yang memanjakan anak-anaknya.
Tapi keduanya memilih bergabung dalam satgas pemberantasan illegal fishing yang dipimpin aktivis senior: Mas Achmad Santosa. Dari foto-foto yang ditayangkan Najwa Shihab, tampak mereka tengah menumpang sekoci kecil mendatangi kapal-kapal pencuri ikan. Dari Ambon, mereka menuju ke Tual, Benjina, dan pusat-pusat penangkapan ikan lainnya di Arafura.
Itu baru permulaan. Sebab, pencurian besar-besaran baru akan terjadi dua-tiga bulan ke depan. Dan mereka, para pencuri itu, datang dengan kapal yang lebih besar. Bahkan mungkin dengan “tukang pukul” yang siap mendorong mereka ke laut menjadi mangsa ikan-ikan ganas.
Uang atau Meaning?
Di luar sana, anak-anak muda lainnya setengah mati cari kerja. Ikut seleksi menjadi calon PNS, pegawai bank, konsultan IT, guru, dosen dan seterusnya.
Seperti kebanyakan kaum muda lainnya, mereka semua didesak keluarga agar cepat mendapat pekerjaan, membantu keuangan keluarga, dan menikah pada waktunya. Cepat lulus, dan dapat pekerjaan yang penghasilannya bagus.
Tak sedikit di antara mereka yang beruntung bertemu orang-orang hebat, dari perusahaan terkemuka, mendapatkan pelatihan di luar negeri, atau penempatan di kota-kota besar dunia.
Tetapi semua itu akan berubah. Sebab atasan yang menyenangkan tak selamanya duduk di sana. Kursi Anda bisa berpindah ke tangan orang lain. Kaum muda akan terus berdatangan dan ilmu-ilmu baru terus berkembang. Bulan madu karier pun akan berakhir. Mereka akan tampak tua di mata kaum muda yang belakangan hadir.
Sebagian dari mereka juga ada yang menjadi wirausaha. Tidak sedikit yang tersihir oleh kode-kode yang dikirim sejumlah orang tentang jurus-jurus cara cepat menjadi kaya raya. Bisa saja mereka berhasil meraih banyak hal begitu cepat. Tetapi benarkah mereka berhasil selama-lamanya?
Pengalaman saya menemukan, orang-orang yang dulu begitu getol mencari uang kini justru tak mendapatkan uang. Di usia menjelang pensiun, semakin banyak orang yang datang mengunjungi teman-teman lama sekedar untuk mendapatkan pinjaman. Sebagian lagi hanya bisa sharing senandung duka.
Kontrak rumah dan uang kuliah anak yang belum dibayar, pasangan yang pergi meninggalkan keluarga dan serangan penyakit bertubi-tubi. Padahal dulu mereka begitu getol mengejar gaji besar, berpindah-pindah kerja demi kenaikan pendapatan.
Saya ingin memberitahu anda nasehat yang pernah disampaikan oleh Co-Founder Apple: Guy Kawasaki kepada kaum muda ia pernah mengatakan begini:
“Kejarlah meaning. Jangan kejar karier demi uang. Sebab kalau kalian kejar uang, kalian tidak dapat ‘meaning’, dan akhirnya tak dapat uang juga. Kalau kalian kejar ‘meaning’ maka kalian akan mendapatkan position, dan tentu saja uang.”
Lantas apa itu meaning?
Meaning itulah yang sedang dikerjakan anak-anak perempuan tadi yang saya temui dalam tapping program televisi Mata Najwa edisi hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei beberapa hari ke depan. Menjadi relawan dalam team pemberantas illegal fishing.
Dan itu pulalah yang dulu dilakukan oleh para mahasiswa kedokteran di STOVIA yang mendirikan Boedi Oetomo yang menandakan Kebangkitan Nasional Indonesia. Bahkan itu pula yang dijalankan oleh seorang insinyur lulusan ITB yang merintis kemerdekaan Indonesia, Ir. Soerkarno. Itu pula yang dilakukan para CEO terkemuka saat mereka muda.
Di seluruh dunia, para pemimpin itu lahir dari kegigihannya membangun meaning, bukan mencari kerja biasa. Dalam kehidupan modern, itu pulalah jalan yang ditempuh para miliarder dunia. Mereka bukanlah pengejar uang, melainkan pengejar mimpi-mimpi indah. Seperti yang diceritakan oleh banyak eksekutif Jerman yang dulu menghabiskan waktu berbulan-bulan kerja sosial di Afrika. "Tidak saya duga, apa yang saya lakukan 20 tahun lalu itulah yang diperhatikan pemegang saham," ujar mereka.
Saya jadi ingat dengan beberapa orang yang mencari kerja di tempat saya, baik di UI maupun di berbagai aktivitas saya. Ada yang benar-benar realistis, datang dengan gagasan untuk membangun meaning dan ada yang sudah tak sabaran mendapatkan gaji besar.
Kelompok yang pertama, sekarang bisa saya sebutkan mereka berada di mana saja. Sebagian sudah menjadi CEO, pemimpin pada berbagai organisasi dan tentu saja wirausaha yang hebat atau Ph.D lulusan universitas terkemuka.
Namun kelompok yang kedua, datang dengan tawaran yang tinggi. Ya, mereka menilai diri jauh lebih tinggi dari kemampuan mereka. Dan tak jarang ada yang diminta berhenti oleh keluarganya hanya beberapa bulan setelah bekerja, demi mencari pekerjaan yang gajinya lebih besar. Amatilah mereka yang baru menikah. Kalau bukan pasangannya, bisa jadi orangtua atau mertua ikut mengubah arah hidup dan merekapun masuk dalam pusaran itu.
Padahal, semua orang tahu orang yang mengejar meaning itu menjalankan sesuatu yang mereka cintai dan menimbulkan kebahagiaan. Dan bahagia itu benih untuk meraih keberhasilan. Orang yang mengejar gaji berpikir sebaliknya, kaya dulu, baru bahagia. Dan ini tumbuh subur kala orang dituntut lingkungannya untuk mengkonsumsi jauh lebih besar dari pendapatan.
Sebaliknya, mereka yang membangun meaning, tahu persis, musuh utama mereka adalah konsumsi yang melebihi pendapatan.
Potret Diri
Kalau saya merefleksikan ke belakang tentang hal-hal yang saya jalani dalam hidup saya, maka dapat saya katakan saya telah menjalani semua yang saya sebutkan di atas. Sementara teman-teman yang 30 tahun lalu memamerkan kartu kreditnya (saat itu adalah hal baru bagi bangsa ini), pekerjaan dengan gaji besar, jabatan dan seterusnya, kini justru tengah mengalami masa-masa yang pahit.
Seorang pengusaha besar mengatakan begini: “Uang itu memang tak punya mata, tetapi mempunyai penciuman. Ia tak bisa dikejar, tapi datang tiada henti pada mereka yang meaning-nya kuat.”
Di dinding perpustakaan kampus Harvard saya suka tertegun membaca esay-esay singkat yang ditulis oleh para aplikan yang lolos seleksi. Dan tahukah Anda, mereka semua menceritakan perjalanan membangun meaning. Maka saya tak heran saat Madame Sofia Blake, istri duta besar Amerika Serikat di sini berkunjung ke Rumah Perubahan minggu lalu, ia pun membahas hal yang sama untuk membantu 25 putra-putri terbaik Indonesia agar bisa tembus diterima di kampus utama dunia.
Meaning itu adalah cerita yang melekat pada diri seseorang, yang menciptakan kepercayaan, reputasi, yang akhirnya itulah yang anda sebut sebagai branding. Anda bisa mendapatkannya bukan melalui jalan pintas atau lewat jalur cara cepat kaya.
Meaning itu dibangun dengan cara yang berbeda dari yang ditempuh pekerja biasa. Dari terobosan-terobosan baru. Dan kadang, dari bimbingan orang-orang besar yang memberikan contoh dan mainan baru. Ya, contoh dan mainan itulah yang perlu kita cari, dan terobosan-terobosan yang kita lakukan kelak memberikan jalan terbuka.
Selamat mencoba. Selamat hari Kebangkitan Nasional. Jangan lupa pemuda yang dulu membangkitkan kesadaran berbangsa di negri ini adalah juga para pembangun meaning.
Minggu, 22 Mei 2016 - , , , , , , , , , , , , 0 komentar

sambut Ramadhan 1437H

tidak terasa, sebentar lagi Ramadhan 1437H kurang lebih 2 pekan lagi...mari kita sambut dengan hati yang gembira, laksana menyambut tamu agung
yuk rencanakan kegiatannya:
  1. Pengajian Akbar
  2. Festival Anak Sholeh
  3. Buka dan Sahur Bersama
  4. Berbagi Inspirasi dan Informasi
  5. Remaja Berkarya

Jumat, 08 Mei 2015 - , , , , 0 komentar

Marhaban Ya Ramadhan 1436 H

Assalamualaikum wr.wb.
Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1436 H, Takmir Mushola Al Mushola dan Yayasan At Thoyyibah mempunyai agenda kegiatan sebagai berikut:
1. Sholat Tarawih
2. Buka dan Sahur Bersama
3. Belajar Baca dan Tulis Al Quran untuk Manula
4. Hafalan Al Quran
5. Cerdas Cermat Santri
6. Lomba Adzan
7. Lomba Gerakan dan Bacaan Sholat
8. Tadarus Al Quran
9. Kerja Bakti
10. Pengecatan Tembok Mushola

Saudaraku sekalian yang berminat sedekah berupa donasi Infaq dan Sedekah bisa menyalurkan via Transfer ke Rekening Mandiri - 1390002077760 dan/atau BCA - 0960355253 atas nama Syarif Thoyib Cabang Cilacap.
Demikian program Kami, atas partisipasinya diucapkan terima kasih dan Semoga Alloh Ta'aala membalas dengan berlipat ganda..Amin Ya Robbal Alamin
Yayasan At Thoyyibah
Jalan Nusa Indah 536 Maoslor
Maos Cilacap-53272